"Pena ku menari mencoretkan sebuah puisi kedukaan..
Gurindam jiwa, cinta Dan air mata..."
Hembusan angin bayu meniup lembut ke pipi Batrisya...
Dari daun tingkap dia memandang ke luar. Hujan rintik-rintik
menyamankan udara petang itu.
Adam Hakimi..hatinya berbisik.Dia tersenyum menatap
raut wajah jejaka dihadapannya sekilas.
Ya Allah Ya Tuhanku..adakah ini takdirku?
Sudah sejauh ini aku cuba menjauhkan diri
tapi andai benar ini suratannya aku pasrah.
"Kenapa Sya pergi jauh sampai ke Penang ni?
Sebab Adam ke?Sya benci Adam ke?Dah tak Sayang
Adam lagi?",berbagai soalan diajukan.
Batrisyah hanya diam membisu.
No comments:
Post a Comment